STAMET MAUMERE
Showing posts with label peralatan. Show all posts
Showing posts with label peralatan. Show all posts

Monday, June 22, 2015

AWOS

AWOS (Automatic Weather observation System) merupakan alat pengamatan cuaca otomatis yang ditempatkan di bagian-bagian tertentu landasan pacu di suatu bandara. Pada umumnya AWOS dibedakan menjadi dua jenis. Yang pertama yaitu big AWOS yang memiliki sensor cuaca lengkap dan ditempatkan pada bandara-bandara dengan tingkat kesibukan tinggi. Sedangkan yang kedua adalah small AWOS yang memiliki sensor yang lebih sedikit yang disesuaikan dengan kebutuhan bandara terkait.
Perangkat AWOS yang dioperasikan Stasiun Meteorologi Wai Oti Maumere merupakan jenis small AWOS yang dirakit oleh Coastal Envinronmental System USA. AWOS tersebut diletakkan di runway bandara Frans Seda Maumere dengan tujuan untuk menunjang keselamatan pesawat terbang saat take off dan landing. Disamping itu data cuaca yang ditampilkan oleh AWOS dapat dijadikan sebagai pembanding alat-alat konvensional yang digunakan dalam pengamatan cuaca.
Untuk saat ini seluruh perangkat AWOS yang dioperasikan BMKG diseluruh Indonesia masih mengandalkan perangkat-perangkat dari luar negeri. Sehingga biaya yang dikeluarkan bisa terbilang mahal dan membuang banyak waktu dalam proses penginstalan perangkat. Diharapkan pada waktu yang akan datang BMKG dapat berkerjasama dengan produsen atau teknisi terampil dalam negeri demi terciptanya penggunaan teknologi dalam negeri yang tepat guna.
Berikut macam-macam sensor yang terdapat pada small AWOS.
    
           1.      Sensor angin, diletakkan pada ketinggian 10 meter dari permukaan             tanah serta jauh dari obstacle.


     


   
   2.      Sensor temperature dan kelembaban, alat ini dilengkapi dengan        blower udara agar menjaga sensor tetap kering.
  
    3.      Visibility dan present weather sensor, merupakan sensor yang           dapat memberikan informasi jarak pandang dan cuaca actual             pada   saat pengamatan.

   
   4.      Ceilometer, adalah alat yang menggunakan teknologi LIDAR          (light ditector and ranging) dengan pemandu laser pada sensornya    untuk mengetahui jumlah dan tinggi dasar awan disekitar runway.



5.      Barometer, atau pengukur tekanan udara dipasang pada kotak           FDCU berfungsi untuk mengetahui tekanan udara pada area             touchdown.



6.      Rain gauge atau penakar hujan, menggunakan prinsip typing         bucket untuk mengukur jumlah curah hujan yang jatuh                 kepermukaan.

            Diharapkan dengan adanya AWOS yang terpasang di bandara Frans Seda Maumere dapat menambah kemamanan dah kenyamanan dalam kegiatan penerbangan sehari-hari.


LIGHTNING DETECTOR



Gb2: kiri sensor, kanan monitor (lightning detector)
Pada sesi ini, kami ingin mengenalkan salah satu alat kami. Tentu saja kami memiliki peralatan yag sagat banyak. Asal kamu tahu saja ya, BMKG memiliki banyak peralatan. Dalam hal ini, alat-alat ini yang nantinya mempermudah kami dalam bekerja. Baik itu utuk observasi, maupun untuk forecast (prakiraan cuaca). Dimulai dari peralatan yang sederhana, seperti pengukur suhu, lama penyinaran matahari, penguapan sampai kepada peralatan yang modern seperti lightning detector, AWOS dan RADAR.
Seperti peralatan lainnya, peralatan ini memiliki kemempua khusus. Kemampuan dari peralatan ini addalah bisa mendeteksi listrik udara (petir). Dan mengetahui besarnya energi yang terjadi dari aktivitas listrik udara tersebut.
Kalau saya tidak salah, kita sudah belajar di IPA sewaktu SD. Bagaimana petir terbentuk. Berawal dari awan Cumulus nimbus. Awan ini adalah jenis awan hujan yang tinggi menjulang bisa sampai 10 KM. Biasanya awan ini berwarna agak gelap, bahka sampai hitam. Nah, didalam awan ini, ada muatan negative dan positive nya. Seperti kita membayangkan listrik yang memiliki eergi negative dan positifnya. Kalau negative dan positive ini digabungkan, maka akan terjadi konsleting. Nah, jadi petir itu sama seperti itu, yang kemudian menimbulkan bunyi dan kilatan.
Lalu mengapa kita selalu melihat kilatan terlebih dahulu, baru kemudian ada bunyi petir? Sebenarnya kilatan dan bunyi petir itu muncul bersamaan. Teteapi karena, kecepatan cahaya lebih cepat daripada kecepatan bunyi, sehingga kita terlebih dahulu melihat kilatan terlebih dahulu. Bahkan kita sering hanya melihat kilatan saja karena, suara petirnya tidak kedengaran karena jarak yang terlalu jauh.
Nah, alat ini, fungsinya untuk mengetahui keberadaan/ sebagai pendeteksi listrik udara yang dihasilkan oleh awan Cumulus Nimbus ini. Kemudian, kita juga bisa mengetahui besaran energi yang terdapat dari aktivitas ini.
Bagaimana cara kerja alat ini? Lightning detector ini bekerja real-time 24 jam. Cara kerja alat ini yaitu dengan menangkap frekuensi dari arus petir, dimana pada saat petir menyambar maka frekuensi gelombang dari petir tersebut yang berada pada lapisan ionosphere di tangkap oleh sensor dan dirubah kedalam bentuk data digital. Setelah ditampilkan dalam bentuk real-time tampilan,selanjutnya dari tampilan tersebut diconvert dalam bentuk data base (xls, xml, kml, kmz). out put data berupa :
• Tanggal kejadian petir.
• Jenis atau tipe petir.
• Jumlah petir dalam 15 menit ataupun 1 jam.
• Koordinat petir.